Dmagz.id – Sebagai kota Pahlawan, Surabaya tentunya memiliki beragam kisah perjuangan sebelum Indonesia Merdeka. Nuansa perjuangan sangat kental di Surabaya ini. Bahkan, salah satu Jendral Inggris saat itu harus rela tewas ditangan arek-arek Suroboyo.

Sejatinya, Surabaya menjadi salah satu kota yang sangat tidak bisa dipisahkan dengan sejarah panjang kemerdekaan Indonesia sejak dulu kala. Salah satu buktinya adalah, banyak sekali peninggalan-peninggalan berserajarah semasa penjajahan Belanda di Surabaya. Tugu Pahlawan, Jembatan Merah, Hotel Majapahit, dan banyak lagi.

Salah satu yang sampai hari ini mungkin jarang orang yang tahu bahwa di Surabaya ini juga, masih berdiri gerbong kereta api berwarna hitam kelam, yang juga memiliki catatan sejarah hitam seperti warnanya. Gerbong ini di kenal sebagai gerbong maut, karena tak lepas dari sejarah yang melekat pada gerbong ini.

Kejadiannya saat itu adalah, pada Sabtu, 23 Maret 1947 sekitar pukul 04.00 WIB ada sekitar 100 orang yang merupakan tawanan, yang terdiri dari anggota Tentara Rakyat Indonesia (TRI), tahanan rakyat, gerakan bawah tanah, dan polisi dibangunkan serta dikumpulkan di depan penjara.

Mereka rencananya akan dibawa dari Stasiun Bondowoso menuju ke Stasiun Wonokromo Surabaya. Hal ini karena para tahanan itu, akan dipindahkan ke tahanan di Bubutan. Dalam proses pemindahan tahanan ini, juga sudah disiapkan angkutan berupa kereta api. Mereka akan diangkut dengan tiga gerbong, yaitu gerbong bernomor GR 5769 yang diisi 32 orang, gerbong bernomor GR 4416 diisi 30 orang. Sedangkan sisanya berebut masuk di gerbong bernomor GR 10152 karena panjang dan masih baru.

Jarak tempuh dari Bondowoso hingga Surabaya, membutuhkan waktu 16 jam perjalanan. Dan setelah lebih dari sehari para tahanan menempuh jarak perjalanan, mereka akhirnya tiba di Stasiun Wonokromo sekitar pukul 20.00 WIB, namun naas bagi sebagian besar tahanan, ternyata sudah banyak yang tidak lagi bernyawa. Bahkan, di salah satu gerbong semua tahanan itu tewas. Hal ini ternyata dikarenakan gerbong tersebut, kedap udara, dan selama 16 jam perjalanan, tidak ada supply udara ke dalam gerbong tersebut. Hal ini karena sebenarnya gerbong tersebut merupakan gerbong barang.

Dan untuk mengenang kisah tragis tersebut, akhirnya sampai hari ini, ketiga gerbong tersebut akhirnya di abadikan di tiga kota, yang masing-masing kota ada satu gerbong. Gerbong pertama berada di Alun-alun Bondowoso, dan gerbong kedua ada di Museum Brawijaya Kota Malang. Sedangkan satu gerbong lagi yaitu yang berada di area Museum Gedung Juang 45 Surabaya, yang terletak di jalan Mayjen Sungkono No.106, Pakis, Kec. Sawahan, Surabaya.

Cuma sayangnya, saat beberapa pemerhati sejarah berkunjung ke gerbong maut itu pada Selasa (2/7/2019), ternyata gerbong maut itu tidak terawat dan bahkan terbengkalai karena berada di antara semak belukar. Bahkan, beberapa bagian gerbong tersebut, misalnya dindingnya juga sudah ditembok. Dari penampakannya, seakan tidak ada yang mengurusi situs yang nemiliki sejarah pada masa perjuangan ini.

Ketua Dua Bidang Pendidikan Dewan Gema 45, Masril Jamalus mengungkapkan, hal ini karena imbas polemik kepengurusan di internalnya. Namun saat ini, dirinya menyampaikan hal itu sudah selesai. Ia juga menyatakan dalam waktu dekat ini, pihaknya mengaku akan segera direnovasi.

“Dulu belum sempat melakukan renovasi karena masih ada polemik, tapi kita akan melakukan renovasi dalam waktu dekat. Kalau masalah disewakan untuk hewan kurban saya kira tidak masalah karena tidak mengganggu,” ujarnya.

LK-SURABAYA.