Dmagz Indonesia – Panjebar Semangat menapaki usia ke-90 tahun. Sejumlah komunitas budaya dan seniman turut merayakan dan memaknai kelahiran majalah legendaris tersebut. Mereka melakukan kirab berpayung kain putih dari Kantor Panjebar Semangat, Jalan Bubutan menuju Makam Dr Soetomo di Gedung Nasional Indonesia (GNI).

Ziarah di makam pahlawan nasional sekaligus pendiri Panjebar Semangat ini berlangsung takzim. Lagu Padamu Negeri berkumandang. Aroma wangi bunga menyebar. Rombongan budayawan, seniman, siswa-siswi kemudian menuju Pendopo GNI. Mereka duduk melingkar menandai permulaan acara.

Pimpinan Redaksi Majalah Panjebar Semangat, Kukuh merasa senang dan terharu sebab peringatan ini mendapatkan dukungan luar biasa dari para pegiat budaya. Karena ada juga orasi kebudayaan dan pertunjukan ludruk ‘Kepaten Obor’ di GNI. Lokasi ini adalah saksi bisu sejarah. Tempat Dr Soetomo membidani kelahiran Panjebar Semangat pada 2 September 1933 dan masih eksis memberikan literasi budaya hingga detik ini – sampai menjadi persemayaman terakhir beliau.

“Sembilan puluh tahun menjadi cambuk bagi pengelola Panjebar Semangat meskipun tidak mudah agar terus terbit sampai usia satu abad, kalau bisa seterusnya,” ungkap Kukuh membuka acara sederhana namun penuh makna ini, Senin (11/9/2023).

Panjebar Semangat bukan sekadar majalah berbahasa Jawa biasa. Namun juga menyisipkan nilai-nilai sejarah. Sebagaimana kisah pada awal pemberontakan kapal pemerintah Hindia Belanda di Aceh. Hindia Belanda menahan semua laju pemberitaan media. Akan tetapi Panjebar Semangat nekad memberitakan dan dibredel.

Bukan sekali. Pada saat Jepang datang, majalah ini juga pernah dibredel. Mesin percetakan dirampas dan pengelola diasingkan. Namun pengelola tetap menerbitkan secara diam-diam. Pada 1949 Panjebar Semangat terbit kembali secara terbuka tanpa absen sampai 2023. Tetap menggunakan Bahasa Jawa Ngoko Alus.

“Saya kira ini perjalanan yang amat panjang jatuh bangunnya juga berat dan kami harap tetap eksis,” harapnya.

Kukuh juga berpesan kepada para siswa agar tetap mencintai Bahasa Jawa agar tidak tercerabut dari akar budayanya.

Sementara Dosen FISIP Universitas Airlangga Joko Susanto pada momen senada memberikan orasi kebudayaan bertema Kebudayaan untuk Kemajuan Indonesia. Ia mengatakan Panjebar Semangat adalah majalah tertua kedua di Indonesia.

“Majalah ini sejak lahir telah menyebarkan semangat. Hari ini kita menjadi saksi sejarah 90 tahun lamanya hampir tanpa jeda. Kalaupun ada jeda karena majalah ini sempat dibredel oleh Jepang karena saking takutnya,” ungkap Joko.

Semangat yang disebarkan oleh Panjebar Semangat adalah semangat perjuangan. Namun bukan satu-satunya. Majalah ini didirikan jauh sebelum kemerdekaan. Pada saat itu bicara kemerdekaan dilarang. Namun semangat kemajuan.

“Karena itulah pertemuan hari ini diberikan judul refleksi tentang kemajuan dan kebudayaan,” jelasnya.

Majalah Panjebar Semangat ditulis dalam Bahasa Jawa. Banyak yang berpikir, Panjebar Semangat hanya mengusung romantisme masa lalu. Padahal lebih daripada itu. Kehadiran Panjebar Semangat bagian dari upaya mewujudkan kemajuan.

Joko mengungkap kisah pada tahun 1930-an, dalam sejarah tentang polemik kebudayaan. Tahun itu terjadi perdebatan tentang kebudayaan. Salah satunya antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Dr Soetomo.

Perdebatan kedua tokoh ini berpusat pada pesantren. Karena Sutan Takdir Alisjahbana pendukung pendidikan yang modern. Sementara Dr Soetomo ingin melengkapi pesantren dengan pendidikan budi pekerti, akhlak dan karakter sebagai pendidikan pesantren. Dalam kaca mata Dr Soetomo, kemajuan kemudian tidak harus meninggalkan akar.

“Saya yakin dan percaya ketika beliau memprakarsai Panjebar Semangat, semangat yang sama ada dalam majalah ini,” tutur Joko.

Kemajuan adalah cincin azimat. Mantra penting dalam tiap janji politik. Kemajuan sangat sulit ditolak karena perubahan tanpa kemajuan hanya akan menjadi coba-coba. Keberlanjutan tanpa kemajuan hanya akan menjadi kemandulan. Namun sayang pada UU No 5 Tahun 2017 – tak ada satupun kata kemajuan dalam Undang-undang Kemajuan Kebudayaan.

“Hari ini kita memperingati 90 tahun kemajuan, 90 tahun Panjebar Semangat dan saya percaya kemajuan ini akan menjadi kemajuan yang lebih menyeluruh dan lebih utuh,” ungkap Joko.