Dmagz.id – Musim kampanye politik sudah usah, kontestasi pilpres 2019 akan segera dimulai. Dua hari lagi, seluruh rakyat Indonesia akan merayakan puncak pesta demokrasi lima tahunan ini. Calon presiden 01 Joko Widodo memilih Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta pada Sabtu (13/4/2019 kemarin, sebagai puncak kampanye. Sedangkan calon Presiden 02 Prabowo Subianto, mengakhiri masa kampanye presiden di Gramedia Expo memilih Surabaya, satu hari sebelumnya, pada Jumat (12/04/2019). Kampanye terakhir ini juga di hadiri oleh ribuan para pendukung masing-masing calon presiden.

Baca juga : https://dmagz.id/umum/gelora-bung-karno-gbk-ijo-royo-royo-ketua-panitia-yenny-wahid-mengaku-senang/

Tapi dari sekian banyak pendukung, Putri Gus Dur Yenny Wahid dan anggota Rumah Pergerakan Gus Dur (RPGD) lainnya, punya cara unik dalam rangka berkampanye dan mendukung calon presiden pilihannya, yaitu dengan kompak mengenakan ikat kepala serta juga kaos yang bertuliskan “Tetap Jokowi” dalam bahasa Arab pegon. Hal ini menarik perhatian karena memang tidak biasa, dan menjadi warna tersendiri dari banyak cara dukungan yang dilakukan oleh banyak pendukung capres baik 01 ataupun 02.

Baca juga : https://dmagz.id/umum/alissa-wahid-dan-yenny-wahid-tentang-perda-syariah-tidak-boleh-ada-diskriminasi-dalam-aturan/

Bagi Yenny Wahid, penggunaan huruf Arab pegon hanya merupakan media untuk sebuah gerakan, tapi juga bukan merupakan simbol politik aliran tertentu.

“Huruf pegon justru dipakai sebagai perlawanan terhadap penggunaan aksara Arab yang selama ini dianggap simbol politik aliran atau politik identitas,” kata Yenny Wahid di sela-sela kegiatan Konser Putih Bersatu dikutip dari kompas.com.

Lebih lanjut Yenny Wahid juga menjelaskan bahwa dalam sejarah aksara Arab, huruf Arab tidak hanya digunakan oleh bangsa Arab untuk kepentingan agama saja, tapi juga dalam hal lainnya seperti ekonomi, politik, dan urusan kehidupan lainnya.

Baca juga : https://dmagz.id/umum/meredam-debat-ala-yenny-wahid/

”Ada kesengajaan dari pihak-pihak tertentu yang menggunakan aksara Arab untuk memecah belah bangsa, bukan mempersatukan seperti asalnya. Atribut bertuliskan huruf Arab yang dibawa massa dipakai sebagai penunjuk politik aliran. Bahkan, persaingan kedua calon presiden pun dinilai dari identitas keislamannya,” jelasnya lagi.

Lebih dari itu, Putri mendiang presiden ke-4 Indonesia ini juga menyampaikan alasannya tentang atribut yang menjadi media kampanyenya selama ini.

“Meskipun kegiatan literasi masih hidup di pesantren-pesantren, huruf Arab pegon sudah semakin jarang digunakan. Ini yang kemudian mengilhami teman-teman relawan RPGD untuk memakai Arab pegon, sekaligus sebagai kritik terhadap penggunaan aksara Arab yang keliru dan salah kaprah,” jelas Yenny Wahid lagi.

Baca juga : https://dmagz.id/umum/yenny-wahid-perbedaan-agama-untuk-persatuan-bukan-perpecahan/

LK-Surabaya.