Maka, menggunakan pendekatan berbeda adalah keniscayaan. Sebab, dengan menganggapnya musuh, terbukti manusia tak berdaya di hadapan trilyunan virus Corona. Kita mesti menimbang dengan cermat dan terukur, dalam kontek perlunya bersahabat dengan Corona. Mari belajar dan menyepakati pola hidup dan pola pikir baru. Inilah situasi. Ketiga : membuat norma baru di atas abnormalitas ; yakni a new normal.

TIGA STANDART

Di atas kanvas a new normal ini, masyarakat harus ambil inisiatif, berdiri di penjuru terdepan. Menyiapkan jaminan diri untuk keselamatan sebanyak mungkin diri manusia. Nyaris setengah tahun terakhir wabah telah memaksa manusia, mengubah kebutuhan akan kebersihan, naik peringkat. Virus mudah menyerang tubuh yang tidak bersih.

Cleanliness pada semua cakupannya, mesti jadi perhatian dan kebutuhan utama. Bersih harus jadi standar. Tidak bersih berarti tidak memenuhi standar. Tidak memenuhi standar berarti tidak lolos a new normal. Melanggar kebersihan termasuk aib. Kebersihan dijadikan faktor utama penerapan etiket di semua aspek kehidupan. Di rumah, kantor, sekolah, pabrik, tempat pertemuan, rumah-rumah ibadah, semua menerapkan kebersihan dengan level tinggi.

Untuk mendukung program hidup bersih, maka protokol kesehatan dalam mengatasi Covid-19 yang telah diadopsi pemerintah lewat WHO, bisa menjadi konsensus nasional. Ber-masker, jaga jarak fisik dan sosial, penggunaan disinfektan di sejumlah tempat umum, jadi norma baru dalam keseharian. Menyalahi protokol, jadi tanggungjawab semua orang.

Bersin di tengah kerumunan, melanggar kesopanan versi a new normal. Menjalani hari-hari dengan keadaan yang dulu dianggap merepotkan, melelahkan, tak sopan, tak berbudaya, bahkan aneh, tapi lambat laun akan terasa sebagai sesuatu yang normal. Mengenakan topi atau peci mungkin juga menjadi tradisi normal yang baru.

Tidak jabat tangan, bukan bentuk ketidaksopanan. Mengantongi sanitizer atau alkohol juga menjadi a new normal. Sekalipun cuci tangan dengan sabun di air mengalir lebih baik, tapi dalam keadaan minim air atau jauh dari toilet maka hand sanitizer atau alkohol bisa membantu membersihkan tangan. Kalau jadi habit, dengan mudah kita bisa daftarkan norma-norma baru lainnya.

Semua ini diharapkan bermuara pada terciptanya keselamatan. Terlebih, Islam menetapkan salah satu tujuan syariat adalah tersedianya jaminan keselamatan. Konsensus nasional soal a new normal, akan mengembalikan masyarakat ke rumah-rumah ibadah, sekolah, kantor dan habitat lainnya.

Tentu, semua dilakukan dengan norma baru. Masjid dengan norma baru. Sekolah dengan norma baru. Kantor dengan norma baru. Transportasi dan sarana publik dengan norma baru.

Last but not least, pemerintah harus secepatnya menyiapkan instrumen dan legal standing agar rakyat merasa nyaman dalam menerapkan gagasan besar di era baru.

WELCOME TO THE NEW NOMAL

Ditulis oleh : Syaifullah Yusuf adalah Ketua PBNU, Wakil Gubernur Jawa Timur 2009-2019 dan Founder Area Wisata Halal Ngopibareng Pintu Langit.