Dmagz.id – Bicara kemajuan, 2018 sudah menjadi sesuatu yang istimewa dan maju, bahkan masih sangat mungkin progresif kedepannya dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Terutama dalam hal kemajuan peradaban berbasis digital.

Di ranah digital, semua hal dibahas dan sejauh ini politik dan sosial, memang menjadi salah satu hal yang masih menarik dan tak ada habisnya untuk dibicarakan. Selalu saja banyak bahasan yang bisa kita bicarakan, mulai dari sosok figur tokoh politik, figur tokoh sosial, dan beberapa kasus yang menjerat mereka seperti selalu ingin kita ketahui. Tentunya, juga dengan beragam ekspresi yang beragam. Jika sesuai harapan, maka kita akan relatif senang dengan informasi tersebut, jika tidak maka ekspresi kitapun berubah menjadi murung bahkan, akhir-akhir ini menjadi lebih ekstrim yaitu menghujat si penyebar informasi.

Era digital menjadi sesuatu representasi kemajuan peradaban manusia. Dimana seiring perkembangan alat-alat digital, kita menjadi dimudahkan untuk mendapatkan, mendistribusikan, dan mengolah data informasi apapun, menjadi informasi daur ulang sesuai keinginan. Fenomena ini, bukan tanpa resiko, disamping kemudahan informasi yang kita dapatkan. Bahaya paling umum saat ini adalah HOAX.

Era digital menjadi dua mata pisau tajam peradaban manusia yang dilematis. Dimana seolah-olah satu sisinya adalah kebaikan, kemajuan, kemudahan, dll. Sebaliknya, satu sisinya lagi adalah bahaya, ancaman, dan sesuatu hal yang buruk jika kita tidak bisa memanfaatkannya dengan bijaksana.

Salah satu hal yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah disintegrasi sosial bahkan ancaman negara berbasis tekhnologi. Apa itu?
Coba bayangkan, dulu kita hanya disuguhi rivalitas suporter sepakbola. Tapi di era digital, hal ini semakin meluas dan lebih spesifik. Bahkan, kadang sangat personal.
Setiap orang memiliki peluang yang sama dalam hal penggunaan akses informasi bahkan membuat sesuatu yang bisa jadi baik atau bahkan buruk dalam dunia digital.
Penyebaran hoax menjadi satu masalah tersendiri untuk saat ini.

Jika suporter sepakbola ricuh, yang paling diperhatikan adalah faktor keamanan, dan bisa segera di pantau, karena mobilisasi massa juga kelihatan. Tapi, dunia maya lebih rumit, dan relatif sulit. Membuat sebuah narasi saja, itu bisa langsung dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang. Artinya, misal kita bisa iseng saja menulis sesuatu yang negatif, bukan tidak mungkin ini akan menjadi bola yang akan terus digulirkan dalam ranah dunia maya, bahkan bukan tidak mungkin akan diaplikasikan di dunia nyata, tanpa kita tahu, dan tidak lagi bisa mengontrolnya. Tapi, ini juga berlaku untuk hal-hal yang bersifat positif. Banyak hal yang akhirnya bisa diwujudkan hanya dengan internet, kerumitan-kerumitan sosial juga bisa lebih disederhanakan lewat cara online. Misalnya, berdagang, membuat ide, dll.

Lalu bagaimana menyikapinya?
Kunci utamanya adalah bijaksana dalam penggunaannya. Dunia digital atau online kedepannya sudah menjadi keniscayaan bagi umat manusia. Jika secara fisik, sosial, dan peradaban kita sebagai umat manusia sudah upgrade, apakah nilai-nilai kita sebagai manusia juga sudah kita upgrade menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang sudah semakin maju dan canggih?

Jangan-jangan, semua kemajuan peradaban kita sudah maju, tapi pola pikir kita masih stagnan, atau malah mengalami kemunduran kembali ke jaman dimana bar-bar dan hukum rimba menjadi sebuah solusi, demi sebuah eksistensi dan pengakuan diri dan gengsi?

Bicara dunia digital, dalam waktu dekat ini, akan ada banyak event berskala nasional bahkan internasional akan digelar di Surabaya. Salah satunya adalah “Innocreativation”.

Acara ini diprakarsai detik.com salah satu media online terbesar di Indonesia saat ini, yang memiliki komunitas netizen yang sangat besar. Bekerjasama dengan pemerintah kota Surabaya, tadi siang (Sabtu, 10/11/2018), dilangsungkan press conference tentang sedikit bocoran tentang acara ini. Bahwa acara ini akan berlangsung selama dua hari, bertempat di Grand City Mall Surabaya. Akan ada banyak pekerja kreatif, selebritis, dan pengusaha, yang akan memberikan materi mereka tentang kiprah dan pengalamannya kepada warga Surabaya. Acara ini konon, dikemas tidak biasa.

Bertempat di Rumah Dinas Walikota Surabaya, Press conference dihadiri oleh Chairul Tanjung, sebagai CEO Trans Corp, yang merupakan holding company dari detik.com, di dampingi oleh Tri Rismaharini sebagai Walikota Surabaya saat ini, yang sudah meraih banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri atas  prestasinya bersama kota Surabaya. serta hadir juga mendampingi mantan menteri pendidikan Indonesia yang juga tokoh Jawa Timur Prof. Moh. Nuh.

“Acara ini adalah acara inovator, dan kreatif people, orang-orang kreatif itu berkumpul bersama, berbicara untuk menyebarluaskan pengetahuan dan pengalaman mereka dibidang inovasi, kreatifitas, dan enterpreneurship kepada anak muda khususnya di Surabaya, Jawa Timur, dan provinsi-provinsi lain di Indonesia”. Jelas Chairul Tanjung kepada awak media yang hadir tadi siang.

Diluar itu, setelah Innocreativation akan ada beberapa event besar lagi yang akan digelar di Surabaya. Salah satunya adalah Startup Nation Summits. Menurut Tri Rismaharini, acara ini akan dihadiri oleh kurang lebih 135 negara.

Kreatif dan digital menjadi salah satu bagian yang seolah-olah memang tidak bisa dilepaskan saat ini. Beberapa perusahaan berbasis digital bahkan sudah masuk rangking dunia adalah dari Indonesia. Seperti Go-jek, Bukalapak dll. Bahkan, usaha kreatif digital ini sudah mulai ekspansi keluar negeri. Tentunya ini jadi motivasi tersendiri bagi kita, bahwa ternyata Indonesia juga bisa bersaing dengan negara-negara lain di dunia.

So, menurut kalian digital harapan atau ancaman?

LK-Surabaya