Dmagz.id (Surabaya) – Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan setidaknya ada 8 juta kematian yang disebabkan oleh asap rokok dan 1,2 juta kasus di antaranya terjadi pada perokok pasif. Saat ini jumlah perokok di Indonesia sekitar 75 juta orang atau 33 persen dari jumlah penduduk Indonesia, tertinggi ketiga di dunia (Riskesdas, 2018).

“Sebanyak 49,8 persen responden yang merokok mengaku tetap mengeluarkan uang untuk membeli rokok selama masa pandemi Covid-19. Lebih dari 13 persen responden mengaku meningkat konsumsi rokoknya. Peningkatan itu dipicu pembatasan aktivitas di luar rumah/WFH. Orang tidak banyak memiliki aktivitas sehingga lari ke aktivitas merokok di rumah”, ungkap Dra. Arie Soeripan, MM mewakili WITT Jatim saat dialog interaktif yang dilaksanakan secara daring pada Selasa, 23 Februari 2021.

Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap bahaya asap rokok, khususnya dampaknya terhadap anak-anak.

Selain dari WITT Jatim, beberapa narasumber juga hadir memberikan paparannya. Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, SKM., M.Kes, TCSC IAKMI Pengda Jatim, serta hadir pula memberikan paparannya perwakilan dari Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) Jatim.

Dra. Arie Soeripan, juga menjelaskan bahwa asap rokok bagi perokok pasif mengandung zat yang lebih berbahaya ketimbang asap yang dihirup oleh perokok. Ini terjadi karena asap tidak melalui filter sehingga menyebabkan gangguan kesehatan bagi yang terpapar. Asap Perokok pasif turut menyerap lebih dari 4000 senyawa kimia. Yang mana 250 jenis dikenal sangat beracun. Parahnya lebih dari 50 jenis memicu kanker.

Selain itu, Dr. Siti Rahayu Nadhiroh selaku TCSC IAKMI Pengda Jatim, juga menjelaskan bahwa dampak perilaku para perokok aktif di dalam rumah, juga memiliki depak stunting terhadap anggota keluarga.

“Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, tercatat lebih dari 158 juta terpapar oleh asap rokok di dalam rumah dan 13 juta di antaranya adalah anak berusia 0-4 tahun. Hal ini menjadi ancaman bagi tumbuh kembang balita sebagaimana dinyatakan bahwa paparan asap rokok, baik selama masa kehamilan maupun selama masa tumbuh kembang anak, memiliki hubungan dengan adanya risiko stunting”, ungkapnya, Selasa, (23/02/21).