Surabaya, 04 Oktober 2021 – Batik sudah menjadi identitas bangsa, tradisi dan budaya membatik sudah ada sejak ratusan tahun lalu di bumi Indonesia. Salah satu yang tertua adalah sebuah desa bernama Pakandangan, Bluto, Sumenep, yang sudah dikenal sebagai sentra produksi batik tulis sejak zaman Belanda bahkan pada zaman kerajaan Sumenep masih berdiri. Di Pakandangan, hampir rata-rata masyrakatnya baik pria atau wanita sudah akrab dengan aktivitas membatik dengan segala prosesnya. Sembari tetap mempertahankan tradisi batik tulis, mereka tetap mengikuti perkembangan motif dan desain dalam membatik.

Salah satunya pengrajin sekaligus pengusaha batik asal Pakadangan Barat, Didik mengungkapkan bahwa dirinya tertarik melanjutkan tradisi leluhur karena kesadaran pribadinya untuk memoderenisasi batik tulis, khususnya Batik Tulis Sumenep, agar keberlangsungannya tetap terjaga, dan bisa terus diterima seiring perkembangan zaman. Atas dasar itu pula, kemudian rumah batik Cako miliknya, resmi berdiri pada 2011 silam.

“Itu saya anggap sebagai cita-cita suci kebudayaan. Untuk merawat batik khas Sumenep dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas,” jelasnya

Menurut Owner sekaligus designer rumah batik tulis Canteng Koneng (Cako) sebelumnya batik Sumenep sempat seolah hilang dan beredar hanya dikalangan tertentu saja. Itu yang membuatnya tergugah, karena menurutnya kesenian menggambar diatas kain itu sudah digeluti oleh masyarakat Sumenep, khususnya di Pakandangan tanah kelahirannya, sudah sejak lama dan sudah menjadi tradisi dan budaya disana. Salah satu sebabnya menurutnya adalah kurangnya inovasi dan sentuhan pada Batik Tulis Sumenep.

“Beberapa batik tradisional Sumenep pada perkembangannya memang mengalami masa surut. Saya melihat itu salah satunya disebabkan design yang monoton,” ungkapnya.