Dmagz.id – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, mengecam kerasĀ  tindakan pemborgolan yang dilakukan polisi terhadap Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat Surabaya pada Kamis (14/11/2019). Insiden ini terjadi saat dilakukan eksekusi terhadap Gedung Astranawa di Kawasan Gayungan Surabaya, dimana Harian Duta Masyarakat berkantor disana.

Lutfi Hakim Wakil Ketua PWI Jatim menilai, aksi polisi berlebihan dan memperlakukan seorang awak media seperti seorang pelaku tindak pidana.

“Polisi dalam hal ini sangat keterlaluan. Pak Kayis (Pemred Harian Duta Masyarakat ) hanya mencoba mempertahankan kantornya agar aktivitas jurnalistik bisa tetap berlangsung, dan korannya bisa terbit. Harusnya bisa dengan komunikasi, apalagi Koran Duta Masyarakat merupakan koran yang melekat dan punya sejarah panjang dengan kehidupan Nahdliyin di Jawa Timur. Jangan sampai aksi polisi tersebut menimbulkan preseden buruk polisi dimata Nahdliyin”, ujar Lutfi Hakim.

M. Kayis sempat di borgol kemudian dimasukkan mobil polisi dan dibawa ke Polsek Gayungsari. Mantan Ketua PWI Jatim Akhmad Munir pun juga sempat angkat bicara. Pihaknya sangat menyayangkan langkah polisi memborgol M. Kayis. Harusnya Polisi yang sudah mengklaim diri sebagai polisi yang profesional bisa mengedepankan komunikasi dan tidak melakukan tindakan represif seperti pemborgolan.

“Polisi kan sudah menata diri sebagai institusi yang profesional. Harusnya paham situasi dan tidak mudah represif”, ujar Akhmad Munir.

Kantor Harian Duta Masyarakat yang menempati salah satu tempat di Gedung Astranawa terkena imbas saat gedung tersebut dieksekusi oleh PN Surabaya. Akibatnya, aktivitas jurnalistik terhenti dan tidak terbit sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Harian Duta Masyarakat adalah koran yang menjadi sumber informasi dan edukasi bagi keluarga Nahdliyin khususnya di Jawa Timur.

Menindak lanjuti hal tersebut, siang ini PWI Jatim berencana akan mengundang para pimpinan media untuk membuat pernyataan sikap dan disampaikan kepada Kapolda Jawa Timur.

LK-SURABAYA.