4. Sikap PBNU
Dengan bergulirnya isu ini, sangat kentara bahwa memang ada upaya menciptakan kondisi ini. Apa tujuannya? asumsi bahwa Indonesia negara kafir menjadi agendanya.
Misalnya pernyataan PBNU yang tertuang menjadi beberapa point diantaranya, point kedua yaitu :
” Berdasarkan laporan tim pencari fakta yang dibentuk PBNU, Pengibaran dan pemasangan bendera HTI ditempat Apel Hari Santri Nasional 2018 terjadi di hampir seluruh Jawa Barat. Seperti Sumedang, Kuningan, Ciamis, Banjar, Bandung, Tasikmalaya, dll. Itu artinya ada upaya yang sistematis untuk melakukan infiltrasi dan provokasi terhadap pelaksanaan Apel Hari Santri Nasional 2018. ………….. Dan seterusnya……….”.

Pernyataan PBNU tentang pembakaran bendera HTI – (Dmagz.id).

Artinyai informasi ini, mengkonfirmasi statement Jendral Wiranto.

Dan semua seperti disengaja dan dilakukan untuk memancing reaksi massa. Dan akhirnya, sudah bisa ditebak apa yang akan mereka lakukan. Memasifkan informasi ini dengan narasi yang provokatif agar masyarakat menjadi tidak percaya pada sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia (NU).

4. Banser dan Ansor yang Patriotis
Dengan sangat tegas juga PBNU menyayangkan kejadian pembakaran bendera tersebut. Karena didaerah lain semua dilakukan sesuai SOP. Bendera diserahkan kepada aparat keamanan dalam hal ini penegak hukum polisi.
Tapi setelah insiden pembakaran ini menjadi polemik Ansor akhirnya menyerahkan para terduga pembakar bendera kepada pihak polisi untuk diproses secara hukum yang berlaku. Walaupun, PBNU juga menegaskan bahwa sikap reflek Banser dilapangan, adalah semata-mata merupakan bentuk kecintaan terhadap tanah air. Tanpa landasan kebencian personal atau kelompok, apalagi melecehkan dan menodai agama. Buktinya, tidak ada satupun tindakan kekerasan baik fisik maupun verbal kepada pengibar bendera dan simbol HTI.

Ini merupakan bentuk patriotisme sejati dari Banser dan Ansor. Wujud cinta tanah air yang tidak perlu di implementasikan dengan cara-cara yang arogan dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Berbanding terbalik dengan HTI yang dengan sangat masif, dan sistematis berkampanye bahwa semua yang tidak sepaham dengan mereka adalah kafir.

Dari beberapa fakta diatas, kita sudah harus sadar bahwa organisasi yang menjadikan simbol kalimat tauhid sebagai bendera mereka, tak ingin Indonesia ini damai selama tujuan mereka tercapai.
Mereka mencoba mengakuisisi kalimat tauhid sebagai komoditas exclusive mereka agar siapapun yang menentang dan menghadang mereka harus siap-siap dengan stigma kafir dan anti Islam. Walaupun, sebenarnya yang menentang mereka adalah orang-orang Islam yang juga berjuang dengan segenap jiwa dan raganya untuk menjadikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Caranya?
Berbakti bagi Nusa dan Bangsanya, bukan mengoyaknya dengan provokasi dan membangun pabrik konflik didalam rumahnya sendiri.

LK-Surabaya