Surabaya, 19 Agustus 2021 – Rektor Universitas 17 Agutus 1945 (Untag) Surabaya dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Akuntansi.

Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, MM., CMA. CPA, ditetapkan menjadi Guru Besar terhitung sejak tanggal 1 Juni 2021. Namun, proses pengukuhan guru besar ditunda dan baru dilaksanakan bersamaan dengan rangkaian Dies Natalis ke-63 Untag Surabaya karena alasan pemberlakuan PPKM oleh pemerintah.

Pengukuhan dilaksanakan oleh Wakil Rektor I Untag Surabaya, Dr. IGN Anom Maruta, MM secara hybrid dengan luring terbatas yang menerapkan protokol kesehatan ketat di Gedung Graha Widya lantai dua. Guru besar yang akrab disapa Prof. Nug ini merupakan putra daerah asal Magetan. Menempuh pendidikan sarjana di Universitas Mulawarman pada Jurusan Akuntansi dengan beasiswa Supersemar dan lulus pada tahun 1987 serta berhasil meraih predikat cumlaude. Kemudian melanjutkan pendidikan magister di Univeritas Gajah Mada dan menyelesaikan Pendidikan Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam kurun waktu 2 tahun 8 bulan dengan IPK 3,97.

Segala kesuksesan yang diraih merupakan buah dari kerja keras serta dukungan istri dan anak-anak tercinta. Kecintaan Prof. Nugroho pada Akuntansi diwujudkan dalam nama putra bungsunya.

“Anak saya nomor dua itu pakai kata aktiva (harta tak bergerak). Namanya Lukky Aktivanto,” sebut ayah dari dua anak ini.

Meski menghabiskan 23 tahun karir sebagai konsultan, dirinya tak melupakan perannya sebagai dosen. Dengan minat keilmuan pada keuangan dan sistem informasi akuntansi, puluhan jurnal nasional dan internasional telah dipublikasikan. Kesibukan sebagai Rektor tak menjadikan Prof. Nugroho menutup diri dan tetap peka akan kondisi terkini.

Pada pengukuhan guru besar tersebut, Prof. Nugroho menyampaikan orasi ilmiah bertajuk ‘Strategi Keuangan Bagi Korporasi Manufaktur yang Financial Distress di Masa COVID-19 di Indonesia’. Penelitiannya dilatarbelakangi oleh kondisi perekonomian yang terdampak oleh pandemi COVID-19.

Dia menyebutkan bahwa perusahaan manufaktur dipilih karena padat karya dan memiliki ketergantungan SDM.

“Saat produksi berkurang 50-60 persen akibat pandemi, maka SDM akan kena PHK. Penyerapan SDM ini jadi pertimbangan”, ungkapnya.

Bahkan dalam penelitian tersebut juga, Prof. Nugroho membandingkan financial distress sebelum dan saat pandemi pada perusahaan manufaktur di Indonesia melalui penelitian deskriptif yang dikombinasikan dengan metode kuantitatif menggunakan linear programming. Hasilnya, ditemukan bahwa banyak perusahaan manufaktur non-farmasi yang terdampak COVID-19 dan mengalami penurunan omzet.

Lebih lanjut Prof. Nugroho memaparkan bahwa banyak perusahaan manufaktur yang bahan bakunya dari luar (negeri).

“Kalau lockdown maka pemasukan bahan baku tidak ada. Kalau tidak ada bahan baku maka produksi menurun”, jelasnya lagi.